Menanti Kehamilan

???????????????????????????????Anak saya yang pertama Alva Gideon Blessio Billik, anak laki-laki yang lahir di Wamena 18 Agustus 2011. Kehadiran anak pertama memiliki kesan tersendiri yang mendalam. Rasanya sepeti sebuah “Wow” “Surprise” tentunya. Sejak istri saya pertama kali menyatakan kalau dia positif hamil. Terlebih kami menunggu kehadiran anak pertama kami selama 2 tahun, dalam masa penantian kami terkadang perasaan sering dipermainkan dengan singgungan orang lain yang sering juga mengganggu perasaan kami. Setiap kami bertemu atau ditelepon oleh entah itu kerabat,saudara, teman “eh sudah punya anak?”, “Sudah ada isi kah?” “Trus si kecil?”,”anaknya sudah umur brapa?” pada awalnya kami mungkin cuek dan menganggap angin lalu dan akan menjawabnya dengan santai “he..he..masih diupayakan”,”Masih dikerjakan” tapi lama-kelamaan ini jadi benar-benar serius apalagi topic menyangkut hal ini makin sering masuk dalam topic pembicaraan kami sebagai suami istri. Yah kami bisa maklumi bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti adalah lumrah dan biasa dalam budaya kita, karena perbandingannya adalah begitu biasanya dan banyaknya pasangan-pasangan di Negara kita ini yang langsung hamil sehabis menikah, bahkan sebelum menikah pun sudah hamil. Jadi kalau setelah nikah belum hamil-hamil juga atau belum punya anak maka akan seribu satu pertanyaan yang akan ditujukan pada pasangan tersebut. Tidak luput juga kami, terlebih lagi bila memikirkan perasaan dari orang tua kami, yang mungkin saja sudah sangat ingin punya cucu, ingin segera menggendong cucu dsb. Meskipun orang tua kami termaksud orang tua yang baik, yang kami tahu mereka mungkin saja bisa mengerti dan memahami serta menjaga perasaan kami agar tidak terluka untuk menyinggung akan hal ini.

Memasuki masa 2 tahun pergumulan mengenai kenapa kami belum punya anak semakin menjadi topic yang sangat sensitif bagi keluarga kami. Terutama bagi istri saya, yah cukup bisa dimaklumi karena “Wanita” yang lebih sering mengedepankan “Perasaan” dalam hidupnya. Kalalu saya sebagai seorang “Pria” memang lebih mengedepankan “logika” dalam bertindak, menyangkut hal ini saya masih cukup santai toh banyak banget pasangan lain yang harus menunggu cukup lama sampai bertahun-tahun baru Tuhan karuniakan anak, bukan hanya 1 atau 2 tahun bahkan 6 sampai 8 bahkan 15 tahun baru pada akhirnya mereka mendapat anak jadi menurut saya kami juga bisa saja masuk dalam kelompok tersebut. Dari sisi iman saya sangat meyakini bahwa kami pasti dikaruniai anak dalam waktu dekat atau lama saya juga tidak tahu, kan itulah iman….mempercayai sesuatu yang kita tidak tahu, toh hamba Tuhan kami di gereja dimana kami beribadah bersaksi bahwa ia harus menunggu 8 tahun baru dikaruniai anak dan sekarang mereka sudah memilik 4 orang anak dan sekian cucu. Perasaan agak tenang iman ini juga dikarenakan pernah kami berdoa dengan salah seorang pendoa yang kami tahu beliau cukup banyak terlibat dan dipakai Tuhan dalam pelayanannya dan ibu ini berkata dalam doanya bahwa kami akan memiliki anak dalam tahun ini juga and it’s a boy. Well… It was a pray.  Dari segi keturunan saya berpikir keluarga saya bahkan keluarga istri tidak ada anggota keluarga kami yang tidak memiliki anak, semuanya beranak cucu, jadi secara garis keturunan saya menyimpulkan bahwa kami berdua sehat dan tidak mandul. Memasuki masa 2 tahun topic soal kapan punya anak dan kenapa kami belum punya anak menjadi semakin dan amat sangat sensitive bagi keluarga kami, saya dan istri saya. Sebagai suami saya juga terkadang menjadi teramat sangat trenyuh apabila istri saya bercerita tentang teman-teman sebayanya yang baru melahirkan sambil ia meneteskan air mata. Ujung-ujungnya saya akan memeluknya sambil berucap satu-satunya kata yang bisa saya ucapkan “Sabar” sambil mengelus-elusnya dan berkata “Tuhan Pasti kasih kita anak….” “Percaya saja, hanya waktu soal waktu, semuanya ada waktunya dan rancangan Tuhan indah pada waktunya”. Setiap kali bertemu teman kami juga pendoa dan juga hamba Tuhan kami, mereka akan berdoa sambil menumpangkan tangan di perut istri saya. Support dan dukungan mereka seperti itu sungguh sangat menguatkan serta menghibur kami. Seringkali melihat istri saya didoakan seperti itu saya akan tersenyum dan berguman di dalam hati saya “Just wait my love…”

Pada saat-saat seperti itu topik untuk menjadi hamil dan cepat hamil menjadi topic yang hangat untuk saya dan istri saya. Hampir setiap saat kami akan membrowsing topic-topik tersebut atau bahkan berkonsultasi dengan teman atau kenalan orang medis baik itu dokter,perawat dsb. Tentang gaya berhubungan, makanan bahkan sampai soal istirahat. Semuanya kami upayakan demi dambaan kami tersebut. Tentu saja saran,masukan,tips dari semuanya itu sangat membantu kami. Bahkan kalau ada talkshow di TV soal  kandungan atau terapi kesuburan entah itu soal medis umum atau pengobatan alternative semua akan saya ikuti dengan seksama.  Juga kami akan menjadi sangat jengkel dan protesnya apabila ada tayangan tentang aborsi, betapa sayangnya hidup anak-anak itu harus dibuang dari dunia ini, para pelaku aborsi tersebut tidak menyadari dibelahan dunia lain betapa banyak orang-orang yang berjuang ingin punya anak. Topik ini juga semakin sensitive secara emosi karena semakin sering kami membicarakannya bahkan sampai berselisih,marah dan saling menyalahkan…bahkan sempat terbesit apakah kami mandul dan pengen untuk mau periksa ke dokter.

Lalu pada suatu siang di hari jumat persisnya…………”Boommm”…….berita itu datang istri saya menyampaikan kalau ia hamil…. Syukur puji Tuhan. Thanks Lord atas berkatnya, semua perasaan galau,ragu,malu pun terhalau……banyak sekali doa yang kami panjatkan pada Tuhan atas berkatnya tersebut.

Semua pengalaman diatas membuat saya sangat-sangat mengerti dan bisa memahami bagaimana perasaan pasangan yang sudah lama menikah dan belum juga dikarunia anak. Saya sangat menjaga perbincangan dan pembicaraan untuk tidak menyinggung soal anak karena hal itu akan sangat menyentuh dan melukai perasaan mereka. Buat teman-teman,saudara atau siapapun diluar sana yang belum juga punya anak, harap saja bersabar banyak berdoa dan berusaha. Menjadi hamil dan punya anak hanya soal waktu saja. Bahkan kalau seandainya Tuhan belum atau tidak memberikan anak, kita bisa belajar dan menyaksikan betapa banyak pasangan diluar sana yang tetap saling setia dan mencintai meskipun Tuhan belum atapun tidak memberikan anak atau keturunan. Hidup adalah pilihan kita bisa memilih untuk selalu tetap positif, sabar,dan terus setia.

1 Response so far »

  1. 1

    wati said,

    So touch….. Sampe nangis bacanya…hiks😦 Proud of U to be a patient and loyal man that can support your wife in every circumstance of life…..


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: